Recent Posts

Tampilkan postingan dengan label Dunia islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 September 2010

“Jejak” Islam di Luar Angkasa

Islam mencapai puncak kejayaannya pada era pemerintahan Daulah Abbasiyah, terutama pada bidang ilmu pengetahuan. Nyaris tak ada sejengkal pun dari bilik-bilik ilmu ini yang tidak tersentuh oleh umat Islam. Termasuk ilmu tentang dunia luar angkasa. Nashiruddin ath-Thusi dan al-Biruni adalah sebagian dari sosok yang cukup dikenal kepakarannya dalam bidang ini.

Jadi sebelum ilmuwan Barat bergelut di dalamnya, para ilmuwan Islam telah lebih dulu mendalami dan mengakrabi dunia angkasa luar. Meski tak semaju dengan capaian ilmuwan Barat, tapi dari hasil kajian ilmuwan Muslimlah pintu-pintu menuju kemajuan terbuka satu demi satu.

Bintang, bulan, dan matahari adalah obyek penelitian yang paling menarik perhatian para ilmuwan Muslim kala itu. Pasalnya, Al-Quran mengabarkan bahwa ketiga ciptaan Allah ini mempunyai fungsi yang luar biasa. Bintang misalnya, Allah menciptakannya sebagai petunjuk dalam menentukan arah.

Inilah yang coba diteliti oleh ilmuwan Muslim ketika itu. Dari hasil kajian dunia luar angkasa, beragam kemudahan bisa dinikmati umat Islam saat itu. Satu persatu hikmah dan manfaat di balik penciptaan bintang berhasil terkuak. Yang paling sangat bermanfaat adalah cara dalam menjadikan bintang sebagai penunjuk arah.

Jelas saja hasil itu berpengaruh besar dalam kehidupan umat Islam saat itu. Sektor perekonomian termasuk yang paling merasakan berkahnya. Perjalanan bisnis para saudagar Arab yang kerap tersendat oleh pekatnya malam, kini sudah mulai teratasi.  Dengan adanya penunjuk arah, hamparan padang pasir yang berselimutkan gelapnya malam bukan lagi 'penyesat' yang perlu ditakuti. Begitu juga para nelayan yang mencari ikan di hamparan laut luas.

Kita juga mengakui bahwa sebagian dari ilmu perbintangan ini dikecam oleh para ulama. Namun, jika kita perhatikan buku akidah, maka yang diharamkan adalah ilmu perbintangan yang digunakan untuk meramal perkara-perkara yang belum terjadi, seperti meramal nasib atau kejadian tertentu yang sifatnya ghaib bagi manusia. Lain halnya jika ia digunakan untuk kepentingan menentukan arah. Dalam fungsi ini hukumnya mubah-mubah saja. Al-Quran sendiri melegalkannya. Bahkan, hukum itu bisa berubah menjadi mustahab atau wajib jika digunakan untuk menentukan arah kiblat.

Bukti Sejarah
Di perpustakaan Eropa, kita bisa menemukan bukti bahwa sumbangsih ilmuwan Muslim dalam ilmu luar angkasa bukan omong kosong. Khususnya yang berkaitan dengan penamaan bintang. Seorang penulis Barat bernama Paul Kunitzsch menemukannya dalam buku Almagest karya Ptolomeus tentang penamaan bintang "Fomalhault" . Nama itu berasal dari bahasa Arab, "famul haut" yang berarti mulut ikan hiu. Muslim Heritage Foundation bahkan mencatat ratusan nama bintang yang berasal dari Bahasa Arab.

Tapi begitulah siklus kehidupan yang diinginkan pencipta-Nya. Allah akan mempergilirkan kejayaan itu berdasarkan usaha dan kerja keras setiap kaum. Itulah yang terjadi pada rezim Abbasiyah. Pemerintahan yang semakin melemah memaksa perkembangan ilmu pengetahuan kembali masuk ke jalur lambat. Apa yang telah dirintis oleh para ilmuwan kita seolah kehilangan induknya karena tak lagi mendapat nafkah perhatian yang memadai. Salah satu yang mengalami nasib malang itu adalah ilmu angkasa luar.

Lahir kembali
Berabad abad terlelap tidur, akhirnya kejayaan Islam di luar angkasa yang nyaris terkubur itu seolah lahir kembali. Sultan Salman Abdul Aziz adalah aktor utamanya. Pria berkebangsaan Arab Saudi ini tak lagi mengamati ciptaan Allah di luar angkasa dari bumi. Ia melihatnya dalam radius yang lebih dekat.

Pada tahun 1985, ia berangkat ke luar angkasa sebagai peneliti mewakili organisasi satelit Arab. Keberangkatannya tentu saja mengangkat prestise umat Islam di dunia internasional. Pasalnya, pria yang tak lain cucu pendiri Kerajaan Arab Saudi ini menjadi orang Islam pertama yang berhasil menembus luar angkasa.

Ia melayang di dunia yang sangat asing ini selama delapan hari. Sepulang dari luar angkasa Sultan bukannya istirahat. Pria kelahiran Riyadh, 27 Juni 1956 ini bersama beberapa orang temannya, langsung mendirikan Association of Space Explorers. Lembaga bertaraf internasional ini mewadahi para astronot yang pernah mengangkasa. Sultan menjadi orang penting di dalamnya.

Keinginan mengembalikan kejayaan Islam di luar angkasa juga ikut menjalar sampai ke negeri jiran. Pemerintah Malaysia selalu menunggu waktu yang tepat untuk mengirim putra terbaiknya ke luar angkasa. Dan saat yang dinanti pun tiba. Pada tahun 2005, pemerintah Malaysia memutuskan untuk membuat program mengirim angkasawan ke Rusia. Mereka belajar di sana sebelum terbang.

Rencana besar ini tidak dilakukannya dengan sembrono. Pendaftaran memang terbuka, tapi seleksinya diperketat. Jumlah pendaftar mencapai 11.000 orang. Mereka mengikuti sembilan tahap seleksi, sampai akhirnya hanya terpilih sepuluh di antara mereka yang layak pergi ke Rusia untuk memperdalam ilmu angkasa di sana. Dari sepuluh orang yang dikirim, Rusia memutuskan untuk memilih satu saja di antara mereka yang layak pergi menjalankan misi di luar angkasa.

Keberuntungan itu jatuh pada Dr Sheikh Muszafhar Shukor. Pria yang sehari-harinya bekerja di sebuah rumah sakit di Malaysia, berhasil menyisihkan ribuan pesaingnya.  Ia akhirnya meluncur ke angkasa pada tanggal 10 Oktober 2007 lalu.  Sesuai dengan keahliannya sebagai dokter bedah ortopedik, di luar angkasa ia menjalani eksperimen yang terkait dengan bedah tulang.

Shalat di Luar Angkasa
Penelitian bukanlah satu-satunya misi Sheikh Muszafhar di luar angkasa. Ia juga membawa misi relijius yang sangat penting. Ia ingin melaksanakan shalat di luar angkasa, sekaligus mengabarkan kepada dunia bahwa shalat adalah ibadah yang sangat agung. Ibadah yang tidak boleh ditinggalkan kapan dan di mana saja, termasuk ketika berada di luar angkasa.

Bersama tiga astronot lainnya, ia mengangkasa selama 12 hari. Waktu itu umat Islam di bumi sedang menjalankan ibadah puasa. Sebagai orang Islam, Sheikh tetap menjalankan ibadah itu meski berada ribuan mil dari bumi. Dan ia mengaku, berpuasa di langit jauh lebih nyaman dan khusyuk. Selain karena tidak merasa haus, lapar, atau lelah, ia juga bisa melihat beragam tanda-tanda kekuasaan Allah.

Di angkasa, Sheikh menjalankan sejumlah eksperimen yang diamanahkan kepadanya. Di atas sana, ia menjalankan fungsinya sebagai dokter dengan penelitian-penelitian biologis dan kimiawinya. Menurut Sheikh, 12 hari ternyata tidak cukup panjang untuk menjalankan semua eksperimennya.

Sheikh tidak bisa menyembunyikan rasa puas dari perjalanannya ini. Bukan saja karena ia berhasil melakukan penelitian, sebagaimana yang ia rencanakan. Di luar angkasa ia bisa menjumpai banyak sekali tanda kekuasaan Allah. Yang tak mungkin terlupakan, ketika ia mendengar suara adzan di sana.

"Saya seperti menemukan kedamaian yang berbeda. Percaya atau tidak, di hari terakhir sewaktu kami hendak turun ke bumi, saya mendengar suara adzan," kisahnya. Rasa syukur dan senang Sheikh semakin berlipat karena ia  merasa keberangkatannya tak sekedar mewakili negaranya, tapi juga dunia Islam.

Sabtu, 25 September 2010

Masjid dan Gereja Berdampingan, Tonggak Sejarah Perdamaian Dunia

FISKSÄTRA, SWEDIA (Berita SuaraMedia) – Ketika ketakutan orang-orang akan Islam akhir-akhir ini membuat Islam menjadi berita utama, Jimmie Ákesson menulis pada Aftonbladet, pada Oktober tahun 2009 bahwa "Muslim adalah ancaman asing terbesar di Swedia." Di Nacka, banyak orang yang tidak percaya bahwa para pendatang dan umat Muslim akan menjadi sebuah ancaman. Mereka adalah sebuah aset. Dengan Konselor Erik Langby dan Pendeta Carl Dahlbäck sebagai pemimpin, selama bertahun-tahun negara tersebut telah berupaya untuk berintegrasi dan hidup berdampingan dengan Muslim sebagai tetangga yang baik. Hasilnya sangat mengejutkan.

Beberapa tahun yang lalu dan sekarang sedang dibahas oleh dewan majelis Gereja Swedia, paroki Katolik St. Konrad di Nacka dan Asosiasi Muslim Fisksätra bergabung membangun sebuah rumah Tuhan. Orang-orang di Nacka mengusahakan sebuah Gereja dan sebuah Masjid sebagai sebuah tetangga di bawah satu atap. Lebih dari itu: sebuah Gereja Swedia berdampingan dengan sebuah paroki katolik Roma dan membangun sebuah Gereja umum.

Sebuah model yang dikembangkan menunjukkan sebuah Masjid dan sebuah Gereja berdampingan, disatukan oleh sebuah serambi biasa. Ruang Gereja menyediakan ruang untuk Gereja Swedia sebagai tradisi peribadatan Katolik Roma. Masjidnya adalah sebuah forum terbuka untuk umat Muslim. Tujuannya adalah untuk membuat lingkungan tersebut sebuah perwujudan dari komunitas yang tidak memandang keyakinan, budaya dan bahasa. Bengunan tersebut adalah sebuah pengimbang bagi mereka yang memandang umat Muslim ataupun umat Katolik Roma seperti alien dan sebagai elemen perselisihan.

Ada juga orang-orang yang berpikiran sempit dalam keduanya, baik itu Islam dan Kristen. Muslim pelaku bom bunuh diri bukan lagi perwakilan dari Islam, begitu juga dengan umat Kristen Fundamentalis Amerika yang ultra-ortodoks bagi Kritianitas.

Tuhan dalam bahasa Fisksätra adalah sebuah keunikan dunia, Masjid Umayyad di Damaskus dulunya adalah gereja dan Masjid yang berada di bawah satu atap, namun itu dulu pada tahun 600-an. Proyek unik ini adalah sebuah kenyataan yang dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan antara mereka yang bertemu di rumah peribadatan tersebut. Untuk menciptakan kondisi spiritual rumah peribadatan sebuah pemikiran umum dari nilai-nilai keagamaan untuk ketiga komunitas agama tersebut (Katolik Roma, Gereja Swedia dan Muslim). Membangun sebuah rumah Tuhan di mana tidak ada orang yang mau mendatanginya akan menjadi sebuah ledakan yang fatal.

Tugas dari sebuah dialog adalah untuk memformulasikan sebuah nilai umum masuk ke dalam inti dari analisis kontemporer. Nilai fundamental, yang sekarang diadopsi oleh dewan gereja di Gereja Nacka, sedang di bawah kepemimpinan Bengt Wadensjö dalam pembicaraan antara dua pastor, Carl Dahlbäck dan Andrzej Konopka dan Imam Olwan. Telah dibahas dengan majelis dan dalam percakapan dengan beberapa dari mereka yang secara teratur berpertisipasi dalam kehidupan Gereja.

Wadensjö ingin menekankan bahwa dengan menyetujui sebuah visi rumah Tuhan maka akan menciptakan sebuah kolaborasi praktis dan ideologi umum tentang Tuhan adalah satu dalam rumah Tuhan tersebut. Kolaborasi tersebut terwujud dalam sebuah rumah yang dibagi untuk dua keyakinan berbeda tersebut. Pendeta tersebut juga mengatakan bahwa dengan dibangunnya rumah peribadatan gabungan itu, para penggagas ingin menciptakan kepercayaan dalam keanekaragaman kebudayaan di Fisksätra dan melalui dialog, menggunakan kepercayaan kepada Tuhan seabgai sebuah alat untuk menciptakan perdamaian.

Setiap anggota dari komunitas menjalankan aktivitas keagamaan mereka sendiri di tempat peribadatan mereka masing-masing dan aktivitas kebudayaan dan sosial dari kominitasnya sendiri dan di daerah publik mereka. Proyek tersebut tidak bertujuan untuk mencampur agama dan tidak juga pada mencampur misi di antara anggota komunitas masing-masing. Proyek tersebut akan menyediakan peluang yang meningkat untuk orang-orang dari tradisi agama yang berbeda untuk datang bersama, berkontribusi bersama pada sebuah perkembangan postif yang berkelanjutan di Fisksätra dan menunjukkan bahwa agama adalah sebuah kekuatan yang mempersatukan di dalam komunitas lokal.

Wadensjö juga mengatakan sejarah dunia sedang diciptakan di Fisksätra dan perdamaian dunia dimulai di Fisksätra dengan adanya toleransi menghormati agama lain. Hal ini merupakan salah satu dari dasar proyek pembangunan rumah peribadatan tersebut dengan menghormati dan mencintai sesama dan melindungi semua kehidupan. Nilai-nilai tersebut menunjukkan sebuah cara baru untuk Umat Muslim, Gereja Swedia, dan Gereja Katolik Roma untuk melihat satu sama lain dan hidup bersama sebagai tetangga. Mereka memandang satu sama lain sebagai sumber dalam sebuah upaya untuk menggunakan kepercayaan kepada Tuhan untuk membawa perdamaian kepada dunia.

Demi Jilbab, Seorang Murid di Kosovo Terusir dari Kelas

Zeka telah bertekad. “Jika mereka meminta saya menanggalkan jilbab, saya tak akan melakukannya,” ujarnya. Gadis berusia 17 tahun ini sejak Maret lalu terpaksa harus meninggalkan sekolah karena berjilbab. Ia tertimpa dampak kebijakan Pemerintah Kosovo yang melarang penggunaan jilbab di sekolah-sekolah umum.

Dengan kebijakan itu, Zeka yang tinggal di pinggiran kota wilayah Kosovo Tengah ini dipaksa untuk memilih. Dan ia telah menjatuhkan pilihannya, meninggalkan sekolah. “Sebab, bagi saya jilbab lebih penting dibandingkan sekolah. Jilbab hal paling berharga di dalam kehidupan saya,” katanya seperti dikutip BBC, Selasa (24/8).

Kini, otoritas lokal sedang mempertimbangkan keputusan apakah akan mengizinkan Zeka kembali ke kelas atau tidak, setelah liburan musim panas ini. Ia mengungkapkan kesedihannya atas munculnya larangan jilbab. Ia pun merasakan diskriminasi. Sebab, ia ingin memiliki hak seperti orang lain, bersekolah.

Ia benar-benar rindu kembali ke sekolah, tentu dengan penutup auratnya. Kosovo, yang secara unilateral mendeklarasikan kemerdekaannya dari Serbia pada 2008 silam, menetapkan larangan jilbab di sekolah umum pada akhir tahun lalu. Langkah ini dianggap pemerintah sesuai dengan konstitusi yang menyatakan Kosovo negara sekuler.

Namun, sejumlah kalangan meyakini motif sebenarnya adalah keinginan pemerintah agar Kosovo seperti negara Barat. Yang menegaskan bahwa mereka benar-benar menganut nilai-nilai Eropa. Dengan harapan, Kosovo secara mudah bisa bergabung dalam Uni Eropa. Langkah yang hampir sama dilakukan Turki.

Di sisi lain, mereka menunjuk kan satu fakta lainnya. Untuk mencapai tujuannya, pemerintah mendorong pembangunan katedral Katolik besar yang kini masih berlangsung. Lokasinya di ibu kota negara, Pristina. Sedangkan Muslim, yang jumlahnya lebih dari 90 persen dari populasi, terpaksa harus shalat hingga trotoar.

Hal ini terjadi karena sempitnya masjid-masjid yang ada di kota tersebut. Deputi Menteri Luar Negeri Vlora Citaku, menyampaikan dalih pemerintah soal pelarangan busana Muslimah. “Jilbab di Kosovo bukan elemen dalam identitas kami. Jilbab merupakan pertanda penyerahan diri perempuan kepada laki-laki,” katanya.

Menurut dia, tak mungkin seorang gadis berusia 16 tahun atau 17 tahun mampu membuat keputusan secara sadar untuk memakai jilbab. Ia mengatakan, pelarangan tak akan diberlakukan di universitas. Pemerintah, kata dia, mempertimbangkan soal kedewasaan terkait jilbab.

Secara umum, jelas dia, ada persepsi bahwa setelah berumur 18 tahun ke atas seseorang mampu membuat keputusan secara mandiri. Dengan demikian, perempuan itu melakukan sesuatu bukan karena dorongan atau paksaan di luar dirinya. Ia menegaskan, banyak orang yang mendukung larangan jilbab di sekolah-sekolah umum.

Menurut dia, daripada memberikan fokus pada kelompok marginal lebih baik perhatian diberikan kepada mereka yang mayoritas. Banyak orang tua menyampaikan rasa khawatir tentang anaknya yang mengenakan jilbab. Pada Juni lalu, keputusan pemerintah ini memicu unjuk rasa 5.000 orang di Pristina.

Para pemimpin Muslim menegaskan, mereka akan mengadukan pemerintahnya ke Pengadilan HAM Eropa jika keputusan pelarangan jilbab itu tak dihapuskan. Besa Ismaili, salah seorang yang menentang pelarangan penggunaan jilbab di sekolah umum, menyatakan kebijakan itu mempengaruhi dukungan publik terhadap Pemerintah Kosovo.(rpblk)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More